Antara Jujur dan Dusta
10 min read
ANTARA JUJUR DAN DUSTA
Sadarkah
kita, apa yang hilang dari negeri ini? Kejujuran. Ya. Kejujuran
sepertinya punah di negeri ini. Ia telah menjadi semacam fosil yang
terkubur jauh di lubuk gunung karang nun di dasar samudera sana, sulit
untuk dicari.
Kini, negeri ini riuh dengan dusta. Di pasar, di kantor-kantor, di
lapak-lapak pertokoan, di layar-layar televisi, dusta mewabah begitu
dahsyatnya. Nyaris tak sejengkal perilaku dan ucapan pun terselamatkan
dari kuman-kuman dusta. Walhasil, seperti kita rasakan sekarang, negeri
tercinta ini pun ambruk ke kubangan krisis. Dan, sulit rasanya untuk
bangun kembali bila tetap bertumpu pada pilar-pilar dusta itu.
Untuk itu, mari kita coba berdiri dengan energi kejujuran. Kita
lazimkan kejujuran di setiap perbuatan dan perkataan kita. Insya Allah,
bukan tidak mungkin, kita segera bangkit. Kita kembali kokoh seperti
dahulu lagi. Yakinlah, dengan bekal kejujuran, kita dilingkupi berkah
dan ‘inayah yang melimpah dari Allah jalla jalaaluhu. Camkan nasehat
Habib Muhammad bin Abdullah bin Syekh al-Aydrus berikut ini,
“Saudaraku, ketahuilah, manakala dirimu berlaku jujur dalam mengejar
cita-cita, dan setia menjaga perilaku dengan muamalah yang baik, maka
Sang Kuasa bakal mengarahkan pertolongan-Nya padamu, Ia SWT takkan segan
menaburkan berkah padamu, dan membuatmu merasakan manisnya pergaulan,
hingga hatimu pun menjadi lapang.”
“Sudah sepatutnya, saudaraku,” lanjut Habib Muhammad. “letakkanlah
kejujuran di pelupuk mata, selalu. Jadikanlah ia sebagai landasan atas
tujuan-tujuanmu. Sebutir petuah berkata penuh kearifan, “Kejujuran
adalah pedang Allah SWT di persada bumi ini. Tidaklah ia diletakkan pada
sesuatu, kecuali ia akan memotongnya.”
Maksud petuah diatas kurang lebih sebagai berikut; kejujuran adalah
senjata pamungkas bagi setiap individu untuk meraup kesuksesan. Sebab,
dengan jujur ia bisa dipercaya orang. Dengan kepercayaan itu, seorang
pegawai akan mudah menapaki tangga karir. Bermodal kepercayaan, seorang
saudagar akan lebih lancar memutar roda niaganya.
Selanjutnya Habib Muhammad menguarai lebih dalam lagi soal kejujuran,
“Ketahuilah, kejujuran ada dua definisi. Kejujuran lisan dan kejujuran
hati. Kejujuran hati adalah akar kejujuran lisan. Ia adalah sandaran
manusia. Kejujuran lisan amatlah baik. Tapi kejujuran hati adalah sumber
kebaikan itu. Hati yang jujur adalah lambang keelokan batin dan jiwa
seseorang.
“Adapun dusta, ia adalah perilaku buruk. Dan dusta yang mengerak di
hati lebihlah buruk. Itu adalah tengara keroposnya batin seseorang. Hati
yang berlumuran dusta adalah hati dari sebuah jiwa yang bermatabat
rendah. Dari hati ragam inilah, praktek-praktek lancung senantiasa
tumbuh. Perbuatan-perbuatan itu senyatanya lebih menjijikkan dari dusta
berwujud kata-kata. Kebohongan akan selalu mewarnai tindak-tanduk orang
yang berbatin rusak itu.”
“Manusia, manakala hidup dengan kualitas jiwa rendah, serta tak peduli
lagi dengan pandangan-pandangan negatif atas dirinya, maka, tingkah
lakunya senantiasa merefleksikan kebusukan dan kehinadinaan di dalam
pribadinya. Sedang manusia mulia, ia senantiasa menyadari segala
kekurangannya, kemudian segera membenahinya, sekalipun orang sekitar tak
pernah memerhatikannya.”
“Akan halnya seorang pendusta, ia adalah tipikal manusia yang
menganggap remeh segala aib dan kekurangan yang menempel pada dirinya.
Sekalipun semua itu telah diketahui khalayak banyak. Sebuah ungkapan
bijak bertutur, “Tidaklah seorang pendusta gemar berdusta, kecuali
karena ia memang telah meremehkan segala perangai buruk.”
Dari sini kita bisa mafhum, sosok pendusta adalah orang yang acuh akan
kebobrokan pekertinya. Baginya, akhlak tak perlu diperbaiki, tapi harus
ditutupi dengan kalimat-kalimat bohong yang sedap. Berhasil membohongi
orang-orang adalah suatu prestasi tersediri bagi orang macam ini.
Al’Iyadzu Billah min Dzalik.
“Maklumilah, batin yang jujur takkan pernah membelokkan seseorang dari
jalan kebenaran. Sebaliknya, ia senantiasa meluruskan. Manakala
seseorang menghidupkan jiwanya dengan kebiasaan-kebiasaan baik dan
jujur, maka lisannya sulit untuk mengucapkan kebohongan. Sebab,
sejatinya, lisan adalah penerjemah hati. Ia tak mungkin melafalkan
kata-kata yang tak pernah terbesik di hati. Jika hati jujur, bagaimana
mungkin lisan berkata dusta. Ini sebuah musykil-mustahil.”
“Telah dijelaskan (dalam kitab—kitab para salaf), jika batin seseorang
terlatih pada kebaikan, maka kebaikan itu lambat laun mendarah daging
dalam karakternya. Hingga seumpama ia dibujuk-atau dipaksa-untuk berbuat
dusta, ia akan menampik secara spontan. Sebab, jiwa, dengan karakter
baik, sangat jauh dari sifat-sifat dusta.”
Memang, tak bisa disangkal, hati, lisan dan tubuh saling kait mengkait.
Segala tutur yang diucapkan lisan hakikatnya bermuara dari hati.
Jikalau hati itu baik, yang keluar dari lisan adalah kata-kata yang
baik. Jika buruk, yang terucap adalah kata-kata keji dan dusta. Pun
demikian seluruh kosa gerak tubuh kita. Semua itu adalah cermin tabiat
yang mengendap di hati. Habib Muhammad meneruskan,
“Begitu pula segala perilaku tak elok yang dikerjakan manusia, berupa
ucapan maupun perbuatan. Semua itu disebabkan rusaknya batin seseorang.
Batin itu bisa menjadi rusak dikarenakan lemahnya akal budi orang
seorang atau godaan hawa nafsu yang terlalu kencang mendera.”
“Yang jelas, batin setiap manusia senantiasa berkecamuk kala melakukan
perbuatan nista. Jika ia adalah manusia pandai, namun tak kuasa menahan
nafsu, ia akan menyesal di tengah maupun seusai perbuatan itu. Akan
tetapi, bila ia adalah manusia yang berakal budi lemah, ia akan terus
menikmati kenistaan itu. Tak ada kata sesal dalam batin orang model
ini.”
Mari kita mengoreksi diri, termasuk model manakah kita ini? Yang
pertama, atau yang kedua. Atau yang lebih dari kedua-duanya. Semoga
tidak. (Kalam Habib Muhammad bin Abdullah al-Aydrus, Diterjemah dari
Idhah Asrar Ulumil Muqarrabin; wangsit via kalamsalaf.blogspot.com)
Kini, negeri ini riuh dengan dusta. Di pasar, di kantor-kantor, di
lapak-lapak pertokoan, di layar-layar televisi, dusta mewabah begitu
dahsyatnya. Nyaris tak sejengkal perilaku dan ucapan pun terselamatkan
dari kuman-kuman dusta. Walhasil, seperti kita rasakan sekarang, negeri
tercinta ini pun ambruk ke kubangan krisis. Dan, sulit rasanya untuk
bangun kembali bila tetap bertumpu pada pilar-pilar dusta itu.
Untuk itu, mari kita coba berdiri dengan energi kejujuran. Kita
lazimkan kejujuran di setiap perbuatan dan perkataan kita. Insya Allah,
bukan tidak mungkin, kita segera bangkit. Kita kembali kokoh seperti
dahulu lagi. Yakinlah, dengan bekal kejujuran, kita dilingkupi berkah
dan ‘inayah yang melimpah dari Allah jalla jalaaluhu. Camkan nasehat
Habib Muhammad bin Abdullah bin Syekh al-Aydrus berikut ini,
“Saudaraku, ketahuilah, manakala dirimu berlaku jujur dalam mengejar
cita-cita, dan setia menjaga perilaku dengan muamalah yang baik, maka
Sang Kuasa bakal mengarahkan pertolongan-Nya padamu, Ia SWT takkan segan
menaburkan berkah padamu, dan membuatmu merasakan manisnya pergaulan,
hingga hatimu pun menjadi lapang.”
“Sudah sepatutnya, saudaraku,” lanjut Habib Muhammad. “letakkanlah
kejujuran di pelupuk mata, selalu. Jadikanlah ia sebagai landasan atas
tujuan-tujuanmu. Sebutir petuah berkata penuh kearifan, “Kejujuran
adalah pedang Allah SWT di persada bumi ini. Tidaklah ia diletakkan pada
sesuatu, kecuali ia akan memotongnya.”
Maksud petuah diatas kurang lebih sebagai berikut; kejujuran adalah
senjata pamungkas bagi setiap individu untuk meraup kesuksesan. Sebab,
dengan jujur ia bisa dipercaya orang. Dengan kepercayaan itu, seorang
pegawai akan mudah menapaki tangga karir. Bermodal kepercayaan, seorang
saudagar akan lebih lancar memutar roda niaganya.
Selanjutnya Habib Muhammad menguarai lebih dalam lagi soal kejujuran,
“Ketahuilah, kejujuran ada dua definisi. Kejujuran lisan dan kejujuran
hati. Kejujuran hati adalah akar kejujuran lisan. Ia adalah sandaran
manusia. Kejujuran lisan amatlah baik. Tapi kejujuran hati adalah sumber
kebaikan itu. Hati yang jujur adalah lambang keelokan batin dan jiwa
seseorang.
“Adapun dusta, ia adalah perilaku buruk. Dan dusta yang mengerak di
hati lebihlah buruk. Itu adalah tengara keroposnya batin seseorang. Hati
yang berlumuran dusta adalah hati dari sebuah jiwa yang bermatabat
rendah. Dari hati ragam inilah, praktek-praktek lancung senantiasa
tumbuh. Perbuatan-perbuatan itu senyatanya lebih menjijikkan dari dusta
berwujud kata-kata. Kebohongan akan selalu mewarnai tindak-tanduk orang
yang berbatin rusak itu.”
“Manusia, manakala hidup dengan kualitas jiwa rendah, serta tak peduli
lagi dengan pandangan-pandangan negatif atas dirinya, maka, tingkah
lakunya senantiasa merefleksikan kebusukan dan kehinadinaan di dalam
pribadinya. Sedang manusia mulia, ia senantiasa menyadari segala
kekurangannya, kemudian segera membenahinya, sekalipun orang sekitar tak
pernah memerhatikannya.”
“Akan halnya seorang pendusta, ia adalah tipikal manusia yang
menganggap remeh segala aib dan kekurangan yang menempel pada dirinya.
Sekalipun semua itu telah diketahui khalayak banyak. Sebuah ungkapan
bijak bertutur, “Tidaklah seorang pendusta gemar berdusta, kecuali
karena ia memang telah meremehkan segala perangai buruk.”
Dari sini kita bisa mafhum, sosok pendusta adalah orang yang acuh akan
kebobrokan pekertinya. Baginya, akhlak tak perlu diperbaiki, tapi harus
ditutupi dengan kalimat-kalimat bohong yang sedap. Berhasil membohongi
orang-orang adalah suatu prestasi tersediri bagi orang macam ini.
Al’Iyadzu Billah min Dzalik.
“Maklumilah, batin yang jujur takkan pernah membelokkan seseorang dari
jalan kebenaran. Sebaliknya, ia senantiasa meluruskan. Manakala
seseorang menghidupkan jiwanya dengan kebiasaan-kebiasaan baik dan
jujur, maka lisannya sulit untuk mengucapkan kebohongan. Sebab,
sejatinya, lisan adalah penerjemah hati. Ia tak mungkin melafalkan
kata-kata yang tak pernah terbesik di hati. Jika hati jujur, bagaimana
mungkin lisan berkata dusta. Ini sebuah musykil-mustahil.”
“Telah dijelaskan (dalam kitab—kitab para salaf), jika batin seseorang
terlatih pada kebaikan, maka kebaikan itu lambat laun mendarah daging
dalam karakternya. Hingga seumpama ia dibujuk-atau dipaksa-untuk berbuat
dusta, ia akan menampik secara spontan. Sebab, jiwa, dengan karakter
baik, sangat jauh dari sifat-sifat dusta.”
Memang, tak bisa disangkal, hati, lisan dan tubuh saling kait mengkait.
Segala tutur yang diucapkan lisan hakikatnya bermuara dari hati.
Jikalau hati itu baik, yang keluar dari lisan adalah kata-kata yang
baik. Jika buruk, yang terucap adalah kata-kata keji dan dusta. Pun
demikian seluruh kosa gerak tubuh kita. Semua itu adalah cermin tabiat
yang mengendap di hati. Habib Muhammad meneruskan,
“Begitu pula segala perilaku tak elok yang dikerjakan manusia, berupa
ucapan maupun perbuatan. Semua itu disebabkan rusaknya batin seseorang.
Batin itu bisa menjadi rusak dikarenakan lemahnya akal budi orang
seorang atau godaan hawa nafsu yang terlalu kencang mendera.”
“Yang jelas, batin setiap manusia senantiasa berkecamuk kala melakukan
perbuatan nista. Jika ia adalah manusia pandai, namun tak kuasa menahan
nafsu, ia akan menyesal di tengah maupun seusai perbuatan itu. Akan
tetapi, bila ia adalah manusia yang berakal budi lemah, ia akan terus
menikmati kenistaan itu. Tak ada kata sesal dalam batin orang model
ini.”
Mari kita mengoreksi diri, termasuk model manakah kita ini? Yang
pertama, atau yang kedua. Atau yang lebih dari kedua-duanya. Semoga
tidak. (Kalam Habib Muhammad bin Abdullah al-Aydrus, Diterjemah dari
Idhah Asrar Ulumil Muqarrabin; wangsit via kalamsalaf.blogspot.com)